Senin, 22 Desember 2008

Korelasi Hukum Termodinamika dan Agama dalam kehidupan Manusia

“Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu” (Q.S ar-Rahman:9)

Prof. Dr. Utoro yahya, M.Sc, dalam setiap menyampaikan kuliahnya selalu menekankan kepada para mahasiswanya untuk selalu menjaga keseimbangan antara rohani dan jasmani. Menurut guru besar kimia UGM ini, manusia tak ubahnya sebagai sistem dan lingkungan dalam materi kimia sehingga keberadaannya bisa dikenakan hukum-hukum termodinamika, khususnya hukum kedua. Manusia dalam kehidupan sehari-hari cenderung berperilaku “ngawu” dan menuju “derajat binatang. Fenomena-fenomena yang terjadi di longkungan sekitar kita membawa kebenaran akan dalil hujum kedua termodinamika. Tengoklah! Kejadian yang mengkungkung ranah kehidupan kita, mulai dari politik, masyarakatnya, perilaku kaum mudanya, menunjukkan masyarakat ini tengah menuju ke arah ketidakteraturan. Jika ketidakteraturan ini tidak segera ditangani atau setidaknya ada penyekat untuk mengontrol” energi sis-sia” itu, niscaya alam semesta ini tengah meluncur ketengah ketidakteraturan yang lebih besar yang sering disebut dengan kiamat. Kiamat dalah wujud nyata dari ketidak teraturan alam semesta, semua komonen yang menyusun makrokosmos ini sudah tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ketidakteraturan ini dalam al-Quran digambarkan sebagai “kekacuan yang dahsyat”, manusia beterbangan bagaikan anai-anai atau”gabah den interi”, gunung-gunung beterbangan bagaikan bulu yang dihamburkan.
Kembali kepada perilaku manusia. Meskipun manusia adalah makhluk yang diciptakan sebagai makhluk yang sempurna tetapi perlu diketahui bahwa bahan dasar manusi adalah tanah bahkan Allah mengatakan “dari lumpur yang hitam” dan dikeluarkan dari saluran kencing. Manusia merupakan makhluk yang berada ditengah-tengah tingkatan (derajat)makhlik Allah yaitu derajat malaikat dan derajat syetan serta binatang. Kebaradaan ini memungkinkan manusia nisa tergelincir kedalam tingkata-tingkatan tersebut. Bila manusia bisa menjaga perilaku atau energi yang Allah berikan kepadanya niscaya manusia akan mencapai derajat “kemalaikatan” atau derajat “ahsanu taqwim”.akan tetapi jika sebaliknya manusia tak mampu mengendalikan energi tersebut bererti manusia mengurangi nilai eksistensinay sebagai makhluk yang sempurna dan ini berarti hanya meninkatkan derajat “entropi” dirinya. Eksistensi dirinya sebagai makhluk “linuwih”nya Allah mengalami distorsi menuju derajat syetan atau derajat binatang bahkan bisa lebih hina lagi.
Dengan memahami keadaan sebenarnya manusia, maka kita juga diharapkan bisa memahami mengapa harus ada agama, para rosul yang harus diutus?. Allah telah menyebutkan dalam firman-Nya bahwa para rosul yang diutusnya berfungsi sebagai pengontrol perilaku manusia agar tetap di jalan yang lurus. Kebaradaan para rosul di dunia tidaklah selamanya, keberadaannya terabatas sebaas umur yang ditakdirkan. Agar sepeninggalnya manusia tidak mengalami “disoriented” maka para rosul diberikan wahyu yang bisa bertahan lama yakni kitab suci, salah satunnya al-Quran yang masih terjaga kesuciannya hingga saat ini. Al-Quran merupakan energi pembatas ( penyekat ) antara wilayah kebatilan dan wilayah haq.
Entropi dan keberadaan agama
Hukum kedua termodinamika lahir ketika manusia mencoba memanfaatkan seluruh energi yang disuplaikan ke dalam mesin agar bisa menghasilkan energi yang setara dengan energi yang diberikan ( q masuk = q keluar) dengan demikian manusia menginginkan efisiensi sepenuhnya ( 100 % ).
Era industri, pada abad ke-18, merupakan awal mula pemikiran tentang efisiensi kerja tersebut. Mesin- mesin yang diciptakan pada abad tersebut telah mengantarkan pada permasalahan baru yakni mesin yang bekerja secara siklik, artinya, akan kembali kekeadaan awal pada setiap gerakan terjadi proses yang benar-benar tak reversibel. Hal ini di karenakan uap yang didinginkan dan di buang dari silinder pada akhir gerakan. intinya, mesin mengambilenergi panas dari sumber panas, menggunakan sebagian energi ini untuk menghasilkan kerja yang berguna , kemudian membuang sisanya melalui sumber yang lebih dingin ( lingkungan ).energi yang hilang tadi tidak dapat diambil kembali oleh mesin. Sadi carnot, seorang perwira di korps insyiur angkatan darat Perancis di zaman napoleon, mencoba meningkatkan nilai efisiensi kerja mesin, membuat model funsi kerja dengan sebuah proses siklik yang di idelisasi daan sekarang dikenal dengan siklus karnot. Dia menyimpulkan bahwa kerugian energi yang dapat diambil lagi dari lingkungan tidak dapat dihiliangkan sepenuhnya, walaupun mesin tersebut dirancang dengan sangat baik. Bahkan sekalipun mesin tersebut bekerja dalam reversibel ( yang perpindahan beban luarnya terlalu lambat untuk kebutuhan praktis), efisiensinya tidak dapat melampui batas batas dasar yang dikenal sebagai efisiensi termodinamik. Dengan demikian, tidak ada nesin dengan efisiensi 100%.
Pernyataan diatas seharusnya jangan haya ditarik dalam ranah mesin semata karena bagaimanapun juga hukum-hukum dibidang sains mempunyai korelasi dengan ranah yang lain termasuk perilaku manusia. Masalah efisiensi, Allah sering menyninggung dalam al-Quran. Seperti Allah berkali-kali bersumpah( menyebut) kata-kata yang berkaitan dengan waktu. Waktu yang Allah berikan layaknya energi yang terdapat dalam variabelnya carnot. Waktu tidak dapat berjalan mundur sehingga memunculkan idiom “ waktu adalah pedang” jika tak bisa menggunakan dengan baik maka waktu hanya akan menyebabkan kerugian. Manusia tidak mungkin engunakan waktu yang 24 jam itu secara penuh untuk bekerja pastinya da waktu yang mengalir percuma sehingga bisa dikatakan manuispun tidak bisa mencapai efisiensi 100%.
Allah memulai surat al-Ashr dengan sumapah “wal ashr” ( demi masa), untuk membantah anggapan sebagian orang yang mempermasalhkan waktu dalam kegagalan mereka. Tidak ada yang dinamai masa sial atau mujur, karana yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan seseorang. M. Quraish sihab dalam bukunya” wawasan al-Quran” menuliskan bahwa pengaruh baik dan buruk suatu pekerjaan bukan dikarenakan waktu karena waktu selalu bersifat netral.
Manusia memang lebih cenderung kepada niai ketidakterturan bila dibandingkan dengan sifat keteraturan. Agama yang Allah “ rahmatkan” kepada manuisia adalah suatu oembatas untuk mengisolasi ruang gerak manusia yang jika dibiarkan bisa menimbulkan derajat entropi yang tinggai dan ini berarti nilai ketidakterturan tinggi pula. Paham permisivisme merupakan usaha ceroboh manusia untuk membuka peluang nilai ketidakterturan yan semakin tinggi. Apalagi jika manusia benar-benar tidak menginginkan norma-norma yang mengatur perilakunya dan melupakan tuhan adalah usaha yang sangat bodoh..
Agama dan norma-nora yang lain ibaratnya suatu pembatas, manusia merupakan molekul-molekulnya dan ranah-ranah yang dikuasai manusia wujud dari sistem. Apabila agama dan norma-norma itu dilepaskan maka molekul-molekul akan bergerak bebas memenpati lebih banyak tempat lagi, ketidakterturan bertambah dan entropi muncul. Manusia bergerak acak, ngawur. Meningkatnya entropi berarti meningkatnya angka kriminalitas, kriminolog Paul kibuka pernah engingatkan, bahwa kejahatan yang berkembang mempunyai kaitan erat dengan pertumbuhan masyarakat yang ditandai oleh heteregonitas dan anomias, perubahan –perubahan sosial, persaingan, orientasi materialistik dan bangkitnya kecenderunga-kecenderungan menguatnya ambiguitas individualistik.
Anomitas yang mempunyai kesamaan arti dengan ketidakterturan. Anomitas ini tengah bermunculan di kehidupan masyarakat kiat, keusuhan, tawuran, perampokan, pemerkosaan, korupsi merupakan tanda bahwa masyarkat menuju ketidakterturan. Penyebabnya tak lain adalah masyarakat ini ulai mencabut pembatas yang menjadi pembeda antara yang baik dan yang buruk. Manusia sedang terjangkitai sikap permisive, asal hidup ini senag, norma-norma diterjang, sikap “wedi wirang wani mati” ( takut malu , berani mati) tinggal omong kosong. Jika masyarakat memang sudah tidak peka lagi kepada penyimpangan perilku anggotanya maka kita harus bersiap-siap muju nilai entropiyang sangat dahsyat yang ketidakterturan mencapai titik klimaksnay yaitu kiamat. Fenomena ini sesuai dengan hadist nabi yang berbunyi “ tidak akan terjadi hari kiamat hinggs Alllah mengangkat syariat-syariat-Nya dari dari penduduk bumi, maka tersisi di bumi itu mereka tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak menginkari yang munkar”
Hari kiamat memang suatu kepastian akan tetapi usaha yang baik untuk manusia adalah mengendalikan derajat entropinya agar energi yang Allah berikan menjadi bermanfaat sebagaimana ungkapan QuraisSihab bahwa energi sifatnya netral yang tidak aldalah tujuan daripenggunaan energi tersebut, apakah betujuan ke surga atau neraka dan manusia berhak memilihnya sedangkan Allah mempunyai hak untuk mengganjarnya. Wa allahu a’lam bi showab...