Rabu, 14 Mei 2008

wanita abad global

Perempuan dalam Bingkai Budaya Global

Membicarakan masalah perempuan bak membicarakan nikmat Tuhan,yang takkan pernah habis untuk ditulis.Perempuan ibarat magnet yang menyedot semua daya kreatif untuk menunjukkan semacam daya keheroan. Lirikannya, diamnya, senyumnya, gaya bicaranya, selera makannya mengundang laki-laki bahkan kaum perempuan sendiri,untuk membicarakannya.

Tidak bisa dipungkiri, keberadaan kaum perempuan telah dan akan selalu memberikan warna bagi peradaban umat. Hal ini bisa di lihat dari banyaknya literatur yang menghiasi halamannya,adalah soal perempuan. Ayat-ayat suci agama dan karya-karya sastra zaman dahulu tak lepas untuk ikut serta membicarakan masalah perempuan meskipun isinya ada yang menempatkan perempuan dalam kendali laki-laki atau menempatkannya sebagai “hiasan” dunia. Semuanya mempresentasikan bagaimana urgennya keberadaan perempuan dalam kehidupan dunia ini.

Seiring bergulirnya waktu, dimana zaman mengalami perubahan dan memaksa terhadap setiap individu-individu untuk menunjukkan jatidiri dan peranan sosial masing-masing. Maka perempuan pun , mau tak mau, harus menunjukkan peranannya dalam kehidupan masyarakat.Mereka harus menghapus stereotip masyarakat yang menjustifikasi mereka sebagai “konco wingking” apalagi Cuma sebagai kaum yang Cuma kerjanya “olah-olah, umbah-umbah,mengkurep-mlumah, momong bocah (masak, mencuci, seks, dan ngurus anak). Pandangan ini perlu segera diluruskan, bahwa mereka bukanlah kaum “babu” yang Cuma bisa “sendiko dawuh’ terhadap kaum laki-laki.Kaum perempuan juga punya kesempatan untuk menunjukkan kehebatan sosial mereka.

Realita telah menunjukkan dunia perempuan sekarang ini tidaklah seperti dahulu lagi. Emansipasi tang diperjuangkan sudah terwujud, setidaknya, bahkan keberadaan peranan sosialnya telah menggeser peranan kaum laki-laki. Halaman media massa, iklan TV, gambar baliho kebanyakan menampilkan sosok perempuan dibanding kaum adam. Begitu juga barang yang diiklankan, kebanyakan barang yang dikonsumsi kaum hawa.meskipun demikian kita juga harus waspada dengan gencarnya iklan –iklan yang menampilkan sosok kaum perempuan, jangan jadikan kaum perempuan Cuma jadi penarik daya beli konsumen jika ini yang terjadi berarti perempuan masih terkukung dalam stereotip bahwa kaum perempuan memang Cuma “hiasan” semata.

Kebehasilan perjuangan hak perempuan sebetulnya tak lepas dari keberadaan media massa karena media massa, yang menurut Alfin Tofler, merupakan alat yangmendukung terhadap perubahan wajah dunia (info sphere ).Media massa berperan sebagai alat”gethok-tular” antar masyarakat sehingga terjadi “sambung-roso” anatara laki-laki dan perempuan.Dari sinilah timbul kesadaran akan keberadaan dan peranan kaumperempuan bahwa ditengah kehidupan ini memang sling membutuhkan dan saling melengkapi.

Disisi lain, dengan bebasnya arus informasi yang bisa di akses menjadikan keberadaan kaum perempuan terkutub.Sebagaimana yang ditulis oleh Gilang Desti Parahita dan Ahmad Sidqi, pada satu pihak wanita menginginkam emansipasi tetapi mereka lebih suka melakoni kodratnya “tugas utama perempuan adalah mengurus rumah tangga……tapi, sebagai perempuan, dari pada kerja diluar lebih baik bekerja dirumah saja, untuk menjaga perempuan dan menghindari ihtilat laki-laki”ungkap alifa , seorang nara sumber dalam bukunya Ahmad Sidqi “Sepotong Kebenaran milik Alifa”

Di satu pihak, wanita cenderung menjadi hedonis.Tidak ada lagi sekat yang membatasi antara perempuan dan laki-laki dan mereka menjadi pemuja budaya modern (baca tren baru) baik dunia mode, maupun life style lainnya.Inilah pengaruh budaya global yang notabenenya mempersilahkan “monggo kerso” kepada manusia untuk memilih atau menolaknya, yang jelas, budaya global sudah merambah diseluruh dunia dan merubah tatanan budaya lokal

Yang harus diperhatikan

Dalam suratnya yang ditujukan kepada Dr.Adriani, 5 juli 1903, R.A Kartini menulis” saya seringkali memohon kepada Tuhan , semoga kami tidak akan mengecewakan kepercayaannya kepada kami, dan semoga ia selalu mendapatkan pada kami apa yang di cari, dan diperlukan. Kami mersa bahagia mengenai para pemuda kita, dengan jiwanya yang muda, murni dan menyala-nyala. Semoga idealisme yang murni itu tidak dirusak oleh hidup”

R.A kartini menginginkan emansipasi yang tidak merendahkan martabat kaum perempuan sendiri. Jangan sampai emansipasi yang mulia itu melunturkan martabat perempuan hanya gara-gara polah tingkah yang kebablasan.

Emansipasi hendaknya diikuti sifat wanita yang”suci ati, suci rupi, suci uni”. Ketiga sifat inilah ysng seharusnya menyertai perjuangan kaum perempuan agar haknya memang pantas untuk diterima oleh masyarakat luas.dengan demikian emansipasi bisa melahirkan perempuan yang “STRINARISWARI” yakni wanita yang mampu mengangkat martabat kelurga, masyarakat dan bangsanya. Semoga

Khoirul Anwar